KATA PENGANTAR
Segala
pujian syukur kami
panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat penyertaanNya maka kami sekelompok dapat
menyelesaikan sebuah makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Berikut
ini kami sekelompok mempersembahkan
sebuah makalah Perekonomian
Indonesia dengan topik Struktur Penduduk dan Ketenaga
Kerjaan yang menurut kami
dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita sebagai
mahasiswa untuk dapat mengetahui serta memahami lebih dalam mengenai Struktur
Penduduk dan Ketenaga Kerjaan
Melalui
kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf jika dalam pembuatan
makalah ini terdapat kata yang salah serta terdapat kesalahan dalam penulisan.
Dengan
ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa
terima kasih dan semoga Tuhan memberkati makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat bagi kita yang membaca.
Jakarta,22
Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................................................. 1
Daftar
Isi....................................................................................................................................... 2
BAB
I........................................................................................................................................... 3
1.1
Latar Belakang........................................................................................................................ 3
1.2
Variabel dan Karakteristik Kependudukan............................................................................ 4
1.2.1 Pertumbuhan Penduduk................................................................................................. 4
1.2.2 Kepadatan Penduduk.................................................................................................... 4
1.2.3 Komposisi...................................................................................................................... 5
1.3
Jumlah dan Komposisi Penduduk Indonesia.......................................................................... 6
1.4
Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran........................................................................... 7
1.5
Kebijaksanaan dan Langkah-langkah
Ketenagakerjaan serta mengatasi
pengangguran......... 8
Kesimpulan................................................................................................................................... 10
Daftar
Pustaka.............................................................................................................................. 11
BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Latar belakang
Penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian.
Dalam konteks pasar ia berada baik disisi permintaan maupun disisi penawaran.
Di sisi permintaan, penduduk adalah komsumen, sumber permintaan akan
barang-barang dan jasa. Disisi penawaran, penduduk adalah produsen, jika ia
pengusaha atau pedagang atau tenaga kerja, jika ia semata-mata pekerja. Dalam
konteks pembangunan, pandangan terhadap penduduk terpecah dua, ada yang
menganggapnya sebgai penghambat pembangunan, ada pula yang menganggapnya
sebagai pemacu pembangunan.
Dalam literatur-literatur kuno, pada umumnya
penduduk dipandang sebagai penghambat pembangunan. Keberadaannya, apalagi dalam
jumlah besar dan dengan pertumbuhan yang tinggi, dinilai hanya menambah beban
pembangunan. Dinyatakan dengan kalimat yang lebih lugas, jumlah penduduk yang
besar memperkecil pendapatan per kapita dan menimbulkan masalah ketenagakerjaan.
Dalam literatur-literatur moderen, penduduk justru dipandang sebagai pemacu
pembangunan. Berlangsungnya kegiatan produksi adalah berkat adanya orang yang
membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang dihasilkan. Konsumsi dari penduduk
inilah yang menimbulkan permintaan agregat. Pada gilirannya, peningkatan
konsumsi agregat memungkinkan usaha-usaha produk berkembang, begitu pula
perekonomian secara keseluruhan. Jadi, perkembangan ekonomi turut ditentukan
oleh permintaan yang datang dari penduduk.
Tentu saja tidak sembarang penduduk dengan
sendirinya akan mengembangkan perekonomian. Di sisi konsumsi, permintaan akan
meningkat hanya jika penduduk selaku konsumen mempunyai daya beli yang
menjangkau. Sedangkan disisi produk, penawaran akan tanggap hanya jika penduduk
selaku produsen atau sumber daya manusia memiliki kapasitas produktif yang
memadai dan efisien.
1.2 Variabel-variabel dan Karakteristik
Kependudukan
Tekanan
masalah kependudukan atas pembangunan sesungguhnya tidak terlalu berhubungan
dengan aspek jumlah, melainkan lebih terkait dengan variabel –variabel lain
kependudukan dan karakteristik penduduk yang bersangkutan. Variabel-variabel
lain itu misalnya sebaran, komposisi, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk.
Sedangkan karakteristik yang dimaksud misalnya
tingkat kepadatan, kesehatan , dan pendidikan.
Variabel
– variabel kependudukan antara lain:
1.2.1 Pertumbuhan Penduduk
a.
Pertumbuhan penduduk alami
Pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari hasil selisih
tingkat kelahiran dengan kematian dalam satu tahun disebut pertumbuhan penduduk
alami.
b.
Pertumbuhan
penduduk non alami
Pertumbuhan penduduk non alami diperoleh dari selisih
penduduk yang melakukan imigrasi (migrasi masuk) dengan emigrasi (migrasi
keluar). Pertumbuhan penduduk non alami disebut juga dengan pertumbuhan
penduduk karena migrasi.
c. Pertumbuhan penduduk total
Pertumbuhan
total adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah kelahiran
dengan kematian ditambah dengan selisih dari pertumbuhan non alami.
1.2.2
Kepadatan Penduduk
Kepadatan
penduduk adalah
perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:
a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.
b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas produksinya.
c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:
a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.
b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas produksinya.
c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.
d. Kepadatan
penduduk agraris adalah perbandingan antara penduduk yang mempunyai
aktivitas di sektor pertanian dengan luas tanah (daerah) yang dapat diolah
untuk pertanian.
1.2.3 Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan
usia/ umur, jenis kelamin, mata pencaharian, agama, bahasa, pendidikan, tempat
tinggal, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Berikut ini akan dijelaskan mengenai
komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin.
a. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
Komposisi penduduk berdasarkan usia/umur
dapat dibuat dalam bentuk usia
tunggal, seperti 0, 1, 2, 3, 4, sampai 60 tahun atau lebih. Komposisi
penduduk dapat juga dibuat berdasarkan interval
usiatertentu, seperti 0–5 (usia balita), 6–12 (usia SD), 13–15 (usia
SMP), 16–18 (usia SMA), 19–24 (usia Perguruan Tinggi), 25–60 (usia dewasa), dan
>60 (usia lanjut). Selain itu komposisi penduduk juga dapat dibuat
berdasarkan usia produktif dan
usia nonproduktif, misalnya: usia 0–14 (usia belum produktif),
15–64 (usia produktif), dan usia >65 (tidak produktif).
b. Komposisi Penduduk Berdasarkan
Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarkan umur dan
jenis kelamin dapat dituangkan dalam bentuk diagram yang dikenal dengan
piramida penduduk.Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin juga penting
untuk diketahui, karena dapat digunakan dalam menghitung angka perbandingan
jenis kelamin (sex ratio). Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk
memperkirakan bentuk pemberdayaan penduduk sebagai sumber daya manusia sesuai
dengan karakteristiknya. Misalnya, berkenaan dengan pekerjaan, tanggung jawab,
serta bentuk pengembangan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan potensi
dan kemampuan penduduk.
Karakteristik
– karakteristik antara lain :
a.
Tingkat Pendapatan
Pendapatan
penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi masih tergolong rendah
dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Dengan
pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai kesejahteraan. Rendahnya pendapatan
per kapita penduduk di Indonesia terutama disebabkan oleh :
1)
Pendapatan nasional yang masih rendah.
Hal ini disebabkan sumber daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
2)
Jumlah penduduk yang besar dan
pertumbuhan penduduk yang tinggi tiap tahunnya.
3)
Masih rendahnya penguasaan teknologi
oleh penduduk sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang
optimal.
b.
Tingkat Pendidikan
Pemerintah
Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk
melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program
beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan
sebagainya. Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka
hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Beberapa faktor
yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia sebagai
berikut :
1)
Rendahnya pendapatan per kapita
penduduk, menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai anaknya sekolah, sehingga
banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
2)
Ketidakseimbangan antara jumlah murid
dengan sarana pendidikan yang ada seperti kelas, guru, dan buku-buku pelajaran.
Hal ini menyebabkan tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di
sekolah, terutama di daerah pelosok dan terpencil yang sulit dijangkau program
pemerintah.
3)
Masih kurangnya kesadaran penduduk
terhadap pentingnya pendidikan, sehingga anak tidak disekolahkan tetapi justru
diarahkan untuk bekerja membantu memenuhi ekonomi keluarga.
c.
Tingkat Kesehatan
Tingkat
kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan
pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka
kematian bayi dan usia harapan hidup penduduknya.
Hal ini terlihat
dari tingginya angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah
dibandingkan dengan negara-negara maju. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk
umumnya disebabkan oleh :
1)
Lingkungan yang tidak sehat.
2)
Gejala kekurangan gizi yang sering
dialami penduduk.
3)
Penyakit menular yang sering terjangkit.
4)
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
1.3 Jumlah
dan Komposisi Penduduk Indonesia
Badan Pusat Statistik
(BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk
Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa.
Data BPS
menunjukkan, dari total tersebut, penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa
sementara perempuan sebanyak 126,8 juta jiwa.
“Jumlah tersebut
naik dari 2014 yang berjumlah 252 juta jiwa,” demikian seperti keterangan
tertulis BPS, Jumat (20/11/2015) dikutip finansial.bisnis.com.
Selain itu, BPS
menunjukkan, rasio jenis kelamin penduduk Indonesia pada 2014 dan 2015 realatif
sama, yaitu sebesar 101,02 dan 101. Rasio jenis kelamin, BPS menuliskan,
menunjukkan bahwa dari 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki.
Adapun,
komposisi penduduk kota atau desa menunjukkan penduduk Indonesia pada 2015
lebih banyak di pedesaan, yakni 128,5 juta jiwa. Sementara di perkotaan besar
hanya sebanyak 126,3 juta jiwa.
Meskipun jumlah
penduduk di pedesaan lebih besar, pertambahan penduduk dari 2014 ke 2015 di
perkotaan lebih besar dibandingkan dengan perdesaan. Tercatat, pertambahan
penduduk di perkotaan mencapai 1,75% sementara di perdesaan 0,52%.
1.4 Angkatan
Kerja dan Tingkat Penggangguran
Menurut Undang-undang
RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa
ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan masalah tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. dan menurut Payaman
Simanjuntak tenaga kerja (manpower) adalah penduduk yang sudah atau sedang
bekerja, yang sedang mencari pekedaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain
seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.
Analisis ketenagakerjaan secara garis besar pendudukan suatu negara dibagi atas
dua golongan yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang
tergolong sebagai tenaga kerja ialah penduduk yang berumur di dalam batas usia
kerja. Batas usia kerja berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang
lain. batas usia kerja yang di anut oleh indonesia ialah minimum 10
tahun, tanpa batas umur maksimum.
Tenaga
Kerja (manpower) dibagi menjadi dua kelompok yaitu Angkatan Kerja
(labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk Angkatan Kerja ialah
tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja, atau mempunyai pekerjaan namun
untuk sementara sedang tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan
yang bukan angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja
yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari
pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiataannya seperi pelajar, ibu rumah
tangga, dll.
Selanjutnya Angkatan
kerja dibagi atas dua yaitu :
a. Pekerja ialah
orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang yang mempunyai pekerjaan
dan saat disensus atau disurvei memang sedang bekerja, serta orang yang
mempunyai pekerjaan tapi sementara tidak bekerja.
b. Pengangguran ialah
orang yang tidak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan
(masih atau sedang) mencari pekerjaan.
Tenaga Kerja
bukan Angkatan kerja dibagi atas 3 kelompok yaitu :
a. Penduduk
dalam usia kerja yang bersekolah misalnya pelajar dan mahasiswa
b. Pengurus
rumah tangga
c. Penerima
pendapatan lain.
Berikut tabel jumlah tenaga kerja di
Indonesia, yang bekerja dan menganggur :

1.5 Kebijaksanaan dan
Langkah-Langkah Ketenagakerjaan serta mengatasi Pengangguran
Berbagai
kebijaksanaan telah,sedang,dan akan ditempuh oleh pemerintah dalam upaya
mengatasi masalah-masalah ketenagakerjaan. Penciptaan dan perluasan lapangan
kerja terus diupayakan terutama melalui peningkatan pemerataan pembangunan
industri,pertanian,dan jasa yang mampu menyerap tenaga kerja serta meningkatkan
pendapatan masyarakat.
Berikut adalah
program-progam yang akan dijalankan untuk mengatasi masalah-masalah
ketenagakerjaan meliputi ;
a.
Pembinaan
dan pengembangan kesempatan kerja dan produktivitas.
Program – programnya mencakup pengembangan produktivitas
dan pembinaan lembaga produktivitas.
b. Pendayagunaan dan
penyebaran tenaga kerja.
Program-programnya antara lain perencanaan tenaga
kerja,sistem informasi dan bursa tenaga kerja terpadu;penciptaan tenaga kerja
mandiri dan professional;pemerataan kesempatan kerja antara daerah
pengindonesiaan tenaga kerja asing;peningkatan ekspor jasa tenaga kerja;dan
pemasyarakatan teknologi padat karya dalam upaya mendayagunakan tenaga kerja
yang menganggur dan setengah menganggur.
c. Pelatihan dan penigkatan keterampilan tenaga
kerja,melalui program kemitraan pelatihan;pemagangan;serta perbaikan metode dan
sistem informasi pelatihan.
d.
Pembinaan
hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja.
Langkah- langkah
mengatasi pengangguran :
Suatu
negara mengupayakan seoptimal mungkin untuk meminimalisasi jumlah pengangguran.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran secara
umum:
- Memperluas lapangan pekerjaan. Dengan memperluas lapangan pekerjaan, semakin banyak kesempatan pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang dibutuhkan.
- Deregulasi dan debirokrasi. Dengan pengadaan deregulasi dan debirokrasi, hal ini akan menyebabkan adanya investasi baru yang dapat menjadi stimulus perekonomian.
- Program transmigrasi. Program transmigrasi akan menyebabkan pemerataan penduduk, sehingga kesempatan untuk bersaing untuk memasuki dunia akan berkurang dan kesempatan memperoleh pekerjaan akan semakin banyak.
- Meningkatkan investasi. Investasi akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang akan membantu mengurangi pengangguran.
- Pengadaan pusat pelatihan kerja. Pusat pelatihan kerja akan membantu menyiapkan pencari kerja agar lebih siap ke dunia kerja.
- Membekali keterampilan bagi tenaga kerja. Keterampilan akan sangat bermanfaat bagi pengangguran. Dengan adanya keterampilan, pengangguran bisa membuka usaha sendiri selama belum mendapat pekerjaan.
- Meningkatkan mutu pendidikan. Dengan pendidikan yang semakin berkualitas, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan pun semakin luas.
- Mengadakan bursa pasar kerja. Bursa kerja akan sangat membantu pencari kerja untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan.
KESIMPULAN
Pengangguran
adalah problem yang terus menumpuk.Bertambah dari tahun ke tahun.Persoalan
pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi
juga rendahnya kualitas SDM (sumber daya manusia) yang kita punyai.
Beberapa masalah
lain yang juga berpengaruh terhadap ketenagakerjaan adalah masih rendahnya arus
masuk modal asing, perilaku proteksionis sejumlah negara-negara maju dalam
menerima ekspor komoditi,
Disamping
masalah-masalah tersebut diatas, faktor-faktor seperti kemiskinan,
ketidakmerataan pendapatan karyawan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik
juga sangat berpengaruh terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.
Semua
permasalahan hal diatas tampaknya sudah dipahami oleh pembuat kebijakan
(Decision Maker). Namun hal yang tampaknya kurang dipahami adalah bahwa masalah
ketenagakerjaan atau pengangguran bersifat multidimensi, sehingga juga
memerlukan cara pemecahan yang multidimensi pula.
DAFTAR PUSTAKA
·
Drs. Islamy, M. Irfan, MPA. 1988.
Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta : PT. Bina Aksara.
·
Jawa Pos. Kamis 27 Maret, 2008.Atasi
pengangguran, Butuh Sinergi, Hlm.9.
Dumairy, 1996. perekonomian indonesia, Penerbit Erlangga:Jakarta
Dumairy, 1996. perekonomian indonesia, Penerbit Erlangga:Jakarta
·
H amir, amir. 2007, Perekonomian
Indonesia (dalam prespektif makro), Penerbit Biografika:Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar